🤖HermesBlog
Platform Pesan Hermes · Parte 418/14/2026

Interoperabilitas Ekosistem A2A: AI dari Berbagai Framework Bisa Saling Menelepon

Hermes platform pesan terhubung bagian ke-41: Bagaimana protokol terbuka A2A menghubungkan agen cerdas dari berbagai kerangka kerja.

Kalau setiap merek ponsel cuma bisa nelpon ke mereknya sendiri, telepon pasti sudah punah dari muka bumi. Agen AI juga menghadapi krisis yang sama—sampai protokol A2A hadir.

A2A -ecosystem

Masalah: AI dari Setiap Framework Bicara Sendiri-sendiri, Kayak Dialek

Bayangin, di rumah lo ada agen Hermes, di kantor lo pakai robot workflow yang dibangun dengan LangChain, dan temen lo merekomendasikan asisten kecil yang ditulis pake CrewAI. Mereka semua pinter-pinter, tapi masalahnya—mereka saling nggak ngerti.

Ini kayak Indonesia punya ratusan bahasa daerah. Orang di satu desa bisa ngobrol seru sama tetangga sedesanya, tapi begitu nyebrang ke desa lain, bingung total. Framework AI sekarang persis kayak gitu: Hermes punya cara bicaranya sendiri, LangChain punya interface-nya sendiri, CrewAI punya aturannya sendiri. Lo mau nyuruh Hermes buat ngelempar tugas ke LangChain? Maaf, lo harus copy-paste manual, atau nulis segambreng kode perekat.

Inilah yang disebut “pulau agen” (agent silo). Setiap AI itu pinter, tapi kalau digabungin jadi pada bego semua.

Kenapa A2A Bisa Nembus: Satu Kartu Nama + Satu Bahasa Persatuan

A2A (Agent-to-Agent) protocol hadir buat nyelesaiin masalah “komunikasi antar desa” ini. Ini protokol open source (Apache 2.0) yang diprakarsai Google dan dikelola Linux Foundation, nggak dimiliki oleh perusahaan mana pun. Artinya apa? Artinya ini bukan “barang pribadi” punya vendor tertentu, tapi “bahasa persatuan” hasil musyawarah bareng-bareng.

Desain inti A2A itu super membumi, cuma dua hal:

Pertama, Agent Card (kartu nama agen). Setiap agen wajib naruh “kartu nama” di lokasi tetap (.well-known/agent-card.json), isinya jelas: nama gue siapa, gue bisa ngapain, skill apa yang gue punya, permission apa yang gue butuhin. Orang lain tinggal liat kartu nama, langsung tau bisa minta tolong atau nggak, gimana caranya minta tolong. Kayak lo pegang kartu nama karyawan perusahaan lain, liat jabatannya langsung tau cocoknya ngobrolin apa.

Kedua, standar komunikasi JSON-RPC 2.0. Semua agen berkomunikasi lewat “jalur telepon” yang seragam—kirim pesan, terima pesan, batalin tugas, liat progres, semuanya aksi standar. Dan mendukung streaming SSE, kayak nelpon beneran: lawan bicara ngomong sepatah-patah, lo dengerin sepatah-patah, nggak perlu nunggu dia selesai ngomong kalimat panjang dulu baru bereaksi. Tugas yang lama juga bisa push notifikasi lewat webhook, beres langsung kabarin, nggak perlu jagain terus-terusan.

Desain ini bikin A2A dan protokol populer lainnya, MCP, saling melengkapi dengan sempurna: MCP jawab pertanyaan “tools apa yang bisa gue pakai”, A2A jawab “siapa yang bisa bantu gue nyelesaiin kerjaan”. Yang satu ngurusin tools, yang satu ngurusin kolaborasi.

Peta Ekosistem: Bisa Interop Sama Siapa Aja?

Dokumentasi resminya jelas banget: plugin A2A di Hermes bisa interop dengan siapa pun yang kompatibel A2A. Artinya:

  • Hermes lain (ya iyalah)
  • Agen LangChain (bisa)
  • Agen CrewAI (bisa)
  • Agen ADK punya Google (bisa)
  • Apa pun yang dibangun pake a2a-sdk resmi (semuanya bisa)

Dan interop ini bukan cuma teori—udah diuji langsung pake Python a2a-sdk resmi: parsing kartu nama, kirim pesan, dialog streaming, semua lancar jaya.

Studi Kasus Nyata: Kolaborasi Lintas Framework yang Udah Kejadian

Kaso satu: Hermes + OpenClaw komunikasi satu mesin (GitHub issue #42747)

Ada user yang jalanin Hermes dan OpenClaw di Mac yang sama, dua-duanya nyambung ke Telegram. Tapi Telegram punya limitasi yang bikin geregetan: di grup, bot nggak bisa liat pesan bot lain. Jadi dua AI ini meskipun tinggal seatap, cuma bisa komunikasi lewat user yang manual ngejembatani.

Ini justru skenario tipikal A2A: biar Hermes langsung delegasi tugas ke skill milik OpenClaw, dan sebaliknya, tanpa lewat Telegram dan tanpa perantara manusia. Agen langsung nelpon agen, nggak lewat operator.

Kaso dua: Proposal integrasi Gotong (#58325)

Gotong itu platform orkestrasi workflow self-hosted, kayak ngasih “project manager” buat para agen. Ide proposalnya: Hermes ngurusin memori personal, penalaran, dan pengambilan keputusan; Gotong ngurusin fondasi kolaborasi yang terkelola—penjadwalan tugas, persetujuan manusia, catatan operasional lengkap. Keduanya nyambung lewat endpoint A2A, masing-masing fokus di keahliannya.

Kaso tiga: Kolaborasi enterprise tanpa invasif (#67951)

Ada yang ngusulin solusi transisi yang lebih ringan: bikin paket kolaborasi murni pake mekanisme Skill di Hermes, agen manggil shell script lewat terminal tools, script-nya komunikasi ke Hub pusat lewat HTTP. Nol modifikasi kode, kolaborasi multi-agen langsung jalan. Ini kayak “jembatan darurat” sebelum A2A resmi dipasang.

Artinya Buat Pengguna

Perubahan yang dibawa interoperabilitas ekosistem A2A itu sangat terasa buat pengguna biasa:

Lo nggak perlu pilih kubu lagi. Hari ini pake Hermes, besok pengen nyobain CrewAI? Nggak masalah, mereka bisa saling komunikasi, data, tugas, dan konteks lo bisa pindah dengan mulus.

Agen lo bukan lagi pahlawan kesepian. Kalau satu agen nggak sanggup nyelesaiin sesuatu, dia bisa “minta bantuan”—lewat A2A dia nemuin agen lain yang punya skill relevan, terus delegasi tugasnya. Kayak lo di kantor nemu masalah yang nggak ngerti, langsung tanya rekan yang paham, nggak harus semuanya lewat bos dulu.

Ekosistem makin gede. Karena protokolnya terbuka dan netral, framework mana pun bisa ikut gabung. Hari ini bisa nyambung ke LangChain, besok mungkin nyambung ke agen buatan internal perusahaan lo—asalkan dia ngikutin standar A2A.

Kesimpulannya singkat: A2A ngubah agen AI dari “pulau dialek” jadi “komunitas bahasa persatuan”. AI lo bukan lagi pulau terpencil, tapi satu node di jaringan kolaborasi raksasa yang bisa cari bantuan kapan aja, dan bisa ditemuin orang lain juga.

📖 Dokumentasi resmi

この記事は Hermes Agent のDokumentasi resmiに基づいています:Dokumentasi resmi › user-guide/messaging/a2a